Rabu, 29 Mei 2013

pasola


Pasola, Kuda Sumba, Lembing, dan Kisah Cinta

Add caption
Saat gemuruh kaki kawanan kuda menggetarkan padang sabana seraya puluhan lembing melayang, nafas penonton terhenti sementara, menanti arah dan sasaran ujung lembing yang melesat ganas. Lolos dari seorang penunggang kuda tak bernama, penonton pun riuh rendah melepas kelegaan dan takjub.
Untuk melengkapi sisi ekstrim keberanian Anda, bersiaplah di bulan Februari ke daerah Kodi atau Lamboya, dan bulan Maret di daerah Wanakoka. Kegilaan ini terjadi hanya ada di satu agenda, yaitu Festival Pasola, di Pulau Sumba, di Nusa Tenggara Timur.
Seorang Rato memilih hari yang penuh berkah untuk Pasola, sebuah kata yang berawal dari lembing yang dikenal sebagai ‘sola’ atau ‘hola’ dalam bahasa lokalnya. Namun setelah dibubuhi menjadi ‘pasola’, makna pun berubah menjadi ‘permainan’. Sungguh pun acap kali memakan korban, pasola tetap berpacu di tanah Sumba sebagai permainan penawar duka, duka seorang leluhur atas hilangnya belahan jiwa.
Konon, seorang pemuka adat bernama Umbu Dulla dari Waiwuang, Sumba Barat, berkelana dengan dua pemuka adat lainnya, Ngongo Tau Masusu dan Yagi Waikareri. Meninggalkan istrinya Rabu Kaba untuk beberapa lama, Umbu Dulla dikabarkan tewas tenggelam di laut ganas.
Kesedihan pun melanda Rabu Kaba. Hingga suatu hari seorang pria bernama Teda Gaiparona dari Kodi, semenanjung barat Pulau Sumba, dapat mencairkan cinta Rabu Kaba yang lama membeku. Keduanya dilanda asmara dan berniat untuk menikah.
Sayangnya, pihak keluarga dari keduanya tak merestui. Maka Rabu Kaba dan Teda pergi untuk kawin lari. Hari berganti minggu hingga datanglah Umbu Dulla dengan dua kawannya dari perantauan, menggugurkan kabar burung kematian mereka. Kengerian warga tak sebanding dengan kesedihan Umbu Dulla yang dipaksa keadaan bahwa istrinya telah lari bersama Teda. Tapi Umbu Dulla tak murka walau permintaan agar Rabu Kaba kembali tak dihormati.
Tekanan batin Rabu Kaba yang jelita semakin memuncak, dihimpit cinta terhadap Teda dan kisahnya sebagai istri Umbu Dulla yang tak berujung kepastian. Dilema ini akhirnya ditutup dengan permintaan Rabu Kaba kepada Teda untuk mengganti belis, persembahan keluarga Umbu Dulla dulu saat melamar. Menyanggupi belis yang harus diganti, Teda akhirnya direstui untuk menikah secara sah dengan Rabu Kaba, oleh masyarakat dan khususnya Umbu Dulla.
Untuk menghalau kesedihan, Umbu Dulla memerintahkan diadakannya pesta yang sekarang dikenal dengan Pasola, perayaan rasa sukur terhadap panen yang melimpah setelah melalui penangkapan nyale, cacing laut yang selalu mengundang ceria dan syukur pada masyarakat Nusa Tenggara. Pasola sejak hari itu menjadi tradisi dan sebuah agenda lanjutan dari pesta bau nyale, mencari cacing laut yang sebenarnya melambangkan pelipur lara kehilangan seorang kekasih hati Umbu Dulla, yaitu Rabu Kaba.
Pulau Sumba tak jauh dari Komodo, Flores, dan juga Timor Timur. Gunung  paling tinggi yaitu Wangameti (1.225 m) menyajikan kisah kayu cendana yang dihargai oleh para pedagang dan pemeluk agama berbeda. Umat Hindu dan Buddha dari negeri China dan Jepang memanfaatkannya untuk dupa yang wangi semerbak serta pengobatan pengganti antibiotik. Umat Islam menjadikan kayunya sebagai bulir tasbih yang menawan.
Seperti daratan di Australia dan bagian selatan Afrika, Pulau Sumba melukiskan warna-warna yang tak umum didapatkan saat ditangkap lensa kamera.
Kepercayaan Marapu atau animisme kuno melengkapi budaya tradisi Pasola, yaitu dengan banyaknya persembahan hewan atau pun patung-patung batu atau penjiyang jarang terlihat setelah masuk agama Kristen di pulau itu. Menginjakkan kaki di Sumba adalah cita-cita yang harus dilakukan selama Anda masih sempat berpetualang.

KOMPAS

Kamis, 04 Oktober 2012

MELODIA


Itu adalah salah satu kata yang pernah keluar dari seseorang bernama Umbu Landu Paranggi. Umbu Landu Paranggi yang dikenal sebagai sosok misterius ini memang sangat disegani oleh “gembel-gembel intelektual” Malioboro. Emha Ainun Najib adalah salah satu penyair dan budayawan yang sangat mengidolakan beliau. Saking berpengaruhnya sebagai bapak sastra di kawasan Malioboro sehingga beliau mendapatkan gelar “Presiden Malioboro”.
Siapakah sebenarnya Umbu Landu Paranggi ?
Menurut informasi yang saya dapat, umbu adalah sosok Penyair Indonesia yang hidupnya misterius yang dikenal sejak tahun 1960. Umbu adalah mentor bagi para penyair Indonesia terkenal seperti Emha Ainun Najib dan almarhum Linus Suryadi AG. Tetapi dia sendiri tetap misterius dan dikenal sebagai orang yang suka menggelandang dengan kantong plastik yang selalu dibawanya yang tak lain berisi puisi-puisi beliau.
Banyak orang menyebutnya “pohon rindang” tapi dia sendiri lebih suka menyebutnya “pupuk” saja menandakan betapa rendah hatinya umbu terhadap semua golongan yang dia kenali. Beliau tidak pernah membedakan kelas. Ketika berbicara dengan anak-anak atau orang dewasa, ia tetap bisa diterima oleh siapapun karena kesederhanaan dan kehalusan tutur katanya. Salah satu karyanya yang pernah dipublikasikan adalah :
SOLITUDE
Oleh :
Umbu Landu Paranggi
dalam tangan sunyi
jam dinding masih bermimpi
di luar siang menguap jadi malam
tiba-tiba musim mengeristal rindu dendam

dalam detik-detik, dalam genggaman usia
mengombak suaramu jauh bergema
menggilkan jemari, hati pada kenangan
bayang-bayang mengusut jejakmu, mendera kikinian

seberkas cahaya dari menara waktu
menembus tapisan untung malang nasibku
di laut tiba-tiba angin, lalu gerimis berderai
dalam gaung kumandang bait demi bait puisi

Antologi Puisi Penyair Yogya,1977
Apa yang saya pelajari dari seorang umbu adalah tentang “kesederhanaan”. Kesederhanaan tidak membuat sesuatu menjadi tenggelam tanpa makna. Apa yang diajarkan oleh beliau adalah filosofi “pupuk”. Yaitu memberi, menyuburkan suatu tanaman tanpa ingin dirinya dihargai seperti tanaman itu. Bahkan itulah yang membuat para penyair seperti Emha sangat mengaguminya.
Dari pelajaran malam ini terbersit di pikiran saya tentang filosofi pupuk. Bayangan saya (mudah-mudahan bisa dianggap sebagai gagasan) adalah bagaimana seandainya tulisan-tulisan di kompasiana yang datang dari seluruh rakyat Indonesia ini dipublikasikan ulang dalam bentuk buku. Pasti manfaatnya akan lebih besar sebagai “pupuk” bagi bangsa indonesia yang sedang haus akan jatidiri ini.
Tentu saja, gagasan ini membutuhkan keikhlasan bagi kompasianers sebagai pemilik hak cipta atas tulisan-tulisannya jika seandainya terbit menjadi sebuah buku.
Saya kira akan lebih menarik dan menambah minat kalangan lebih luas untuk mengenal kompasiana yang Indonesianis yang penuh dengan “pupuk pendidikan bagi masyarakat”.